Melisaprawitasari’s Weblog











{Juni 26, 2008}   MAHASISWA MENULIS
  1. By Melisa Prawita Sari on Jun 26, 2008 | Reply

    Mahasiswa menulis, sudah sepantasnya kami sebagai mahasiswa berkewajiban untuk menulis, menulis hal-hal yang bermanfaat. Setelah mengikuti mata kuliah antropologi ini saya baru sadar bahwa untuk menulis kita tidak perlu belajar karena kita sudah dibekali otak oleh Allah SWT. Dengan adanya otak kita bisa langsung menulis apapun yang kita pikirkan dan kita ketahui yang sudah tersimpan dari kita kecil sampai sekarang di dalam otak. Orang-orang yang tidak mau menulis hanyalah orang-orang yang selalu beralasan bahwa menulis itu sulit, karena mereka tidak berupaya menggunakan otak mereka untuk menulis. Dengan mengikuti MK Antropologi ini saya bersyukur dan berterimakasih telah diberi motivasi untuk belajar menulis.



{Juni 8, 2008}   Menulis Manusia Purbakala
  1. By Melisa Prawita Sari on Jun 8, 2008 | Reply

    Apabila mendengar kata manusia purbakala, maka kita dapat membayangkan bagaimana kehidupan manusia tersebut yang hidup di zaman purbakala dimana kehidupan mereka sangatlah bergantung pada alam, beda sekali dengan zaman yang sekarang kita rasakan kita hidup dengan teknologi yang serba canggih dan modern, semua hal dapat kita peroleh dengan instan. Kita sebagai manusia yang hidup di zaman modern ini harusnya bisa lebih pandai memanfaatkan semua kecanggihan teknologi untuk hal-hal yang bermanfaat. Namun, kebanyakan dari kita banyak melupakan hal tersebut karena terlena dengan semua keindahan teknologi sekarang dan tidak jarang dengan adanya kecanggihan teknologi tersebut digunakan untuk hal-hal yang negatif.
    Salah satu hal yang dapat kita lakukan sebagai manusia yang ‘modern’ adalah dengan menulis. Menulis hal-hal yang bermanfaat. Kita semua sebenarnya memang mampu menulis apalagi semua fasilitas di zaman sekarang dapat mempercepat dan mempermudah kita melakukan segala hal untuk menulis. Oleh karena itu memang tidak sepantasnya kita berkeluh kesah dalam menulis karena dengan tulisan kita dapat membuktikan bahwa kita benar-benar manusia modern yang hidup di zaman modern.



{Juni 8, 2008}   Menulis Manusia Prasejarah
  1. By Melisa Prawita Sari on Jun 8, 2008 | Reply

    Zaman sejarah selalu disebut-sebut sebagai zaman yang sudah ada bukti tertulis itu berarti zaman sebelum sejarah atau prasejarah merupakan zaman yang tidak mengenal tulisan. Kita memang sudah berada di zaman sejarah bahkan sudah disebut sebagai zaman yang modern dimana seluruh fasilitas hidup tersedia. Oleh karena itu sudah sepantasnyalah kita memperbanyak menulis agar kita benar-benar menjadi manusia yang modern dan bukan manusia prasejarah yang hidup dizaman modern karena kita tidak pernah menulis.
    Menulis bukan hanya bermanfaat untuk diri kita sendiri tetapi juga bermanfaat untuk orang banyak dan untuk masa depan karena bisa jadi apa yang telah kita tulis sekarang dapat menjadi bukti tertulis untuk masa depan.



{Juni 6, 2008}   Mahasiswa Menulis Buku
  1. By Melisa Prawita Sari on May 9, 2008 | Reply

    BAB VII
    ETNOGRAFI BANJAR

    7. 1 KONDISI OBJEKTIF

    1. Lokasi
    Secara geografis Propinsi Kalimantan Selatan terletak pada garis 140° 19’13″ sampai dengan 116°33’14″ BT dan 1°21’49″ sampai dengan 4°10’14″LS. Propinsi Kalimantan Selatan mempunyai wilayah seluas 37.530, 52 km2 atau sekitar 6,98% dari luas Pulau Kalimantan. Secara administratif Propinsi Kalimantan Selatan Ibukotanya adalah Banjarmasin. terletak di bagian tenggara Pulau Kalimantan, batasnya :

    • Sebelah Utara : berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Timur
    • Sebelah Selatan : berbatasan dengan Laut Jawa
    • Sebelah Timur : berbatasan dengan Selat Makassar
    • Sebelah Barat : berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Tengah

    Penduduk Kalimantan Selatan biasanya menyebut wilayah Banjarmasin dengan sebutan ‘Banjar’, pada mulanya Banjar adalah sebutan untuk kampung yang dihuni oleh orang-orang Melayu. Orang-orang Ngaju menyebut orang-orang Melayu yang tinggal di kawasan sepanjang sungai dengan sebutan ‘Banjar Masih’, yang artinya kampung-kampung orang Melayu, dan berdasarkan geografi politik tradisional, Banjar juga adalah sebuah nama kerajaan Islam yang pada awalnya terletak di Banjarmasin. Ketika proses pembentukan Kerajaan Banjar, Banjar Masih mempunyai pelabuhan dagang yang disebut orang Ngaju ‘Bandar Masih’ artinya Bandarnya orang Melayu dan dijadikan sebagai ibukota kerajaan Banjar yang kemudian menjadi kota Banjarmasin.

    2. Keadaan Alam Kalimantan Selatan

    Sebagian besar Pulau Kalimantan terbangun dari sedimen laut yang berasal dari Laut Jawa dan laut Cina Selatan. Bagian Barat Daya pulau ini terdiri dari singkapan batu berumur 400 juta tahun, pada masa lalu merupakan bagian dari Dataran Sunda yang dulu pernah menyatu dengan Semenanjung Melayu, jawa, dan Sumatera.

    Dari segi topografi di wilayah Kalimantan Selatan terbentang Pegunungan Meratus, terbentang dari Utara ke selatan dan membagi wilayah menjadi Wilayah Barat dan Wilayah Timur. Wilayah Propinsi Kalimantan Selatan mempunyai kemiringan tanah 0-2 % dan sebagian besar berada pada kelas ketinggian 25-100 m di atas permukaan laut.Wilayah Pegunungan Meratus merupakan daerah yang terpisah secara khusus dari daerah perbukitan yang lain dan merupakn lahan yang kaya akan tumbuh-tumbuhan spesifik, terutama anggrek. Jenis fauna tidak hanya tergantung oleh tipe habitat, tetapi juga batasan-batasan geografis pegunungan dan sungai-sungai. Flora resmi di Kalimantan Selatan adalah Kasturi (Mangifera casturi) dan fauna resminya adalah Bekantan (Nasalis larvatus).

    Secara geologis, sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan terdiri dari batu endapan dan batuan beku, dengan bentuk morfologi yang dapat dibagi menjadi 4 bentuk, yaitu :
    • Dataran alluvial : 589.243 ha
    • Dataran : 1.171.944 ha
    • Pegunungan : 1.259.456 ha
    Dengan demikian wilayah Kalimantan Selatan didominasi oleh bentuk morfologi daratan dan pegunungan,masing-masing 33,89% dan 33,56%.

    Daerah Kalimantan Selatan banyak dialiri sungai besar maupun sungai kecil. Sungai terbesar adalah sungai Barito anak sungainya Sungai Bahan dan Sungai Negara. Dekat Banjarmasin, Sungai Barito mempunyai cabang Sungai Martapura dan anak-anak Sungai Riam kanan dan Riam Kiwa. Daerah aliran sungai lainnya yang terdapat di Propinsi Kalimantan Selatan adalah : Tabanio, Kintap, Satui, Kusan, Batulicin, Pulau Laut, Pulau Sebuku, Cantung, Sampanahan, Manunggal dan Cengal. Dan memiliki catchment area sebanyak 10 (sepuluh) lokasi yaitu Binuang, Tapin, Telaga Langsat, Mangkuang, Haruyan Dayak, Intangan, Kahakan, Jaro,dan Batulicin.

    3. Penduduk

    Penduduk yang mendiami Propinsi Kalimantan Selatan biasanya disebut ‘Urang Banjar’ (Orang Banjar), walaupun penduduk di Kalimantan Selatan bukan seluruhnya etnik/ suku Banjar asli.

    Ketika Banjarmasin lahir di tahun 1526 yang merupakan lahirnya kerajaan Banjar, penduduknya adalah campuran dari unsur Melayu, Ngaju, Maanyan, Bukit, Jawa dan suku-suku kecil lainnya yang dipersatukan oleh agama Islam, berbahasa dan beradat istiadat Banjar. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya dengan inti pembentukan persatuan etnik lahir kelompok besar yaitu kelompok Banjar Kuala, kelompok Banjar Batang Banyu, dan Kelompok Banjar Pahuluan.

    Delapan etnik/ suku terbanyak di Kalimantan Selatan berdasarkan sensus 2000 (dalam sensus belum disebutkan beberapa suku terkecil yang merupakan penduduk asli) :
    1. Suku Banjar : 2.271.586 jiwa
    2. Suku Jawa : 391.030 jiwa
    3. Suku Bugis : 73.037 jiwa
    4. Suku Madura : 36.334 jiwa
    5. Suku Buket : 35.838 jiwa
    6. Suku Mandar : 29.322 jiwa
    7. Suku Bakumpai : 20.609 jiwa
    8. Suku Sunda : 18.519 jiwa
    9. Lainnya : 99.165 jiwa
    Total penduduk Propinsi Kalimantan Selatan tahun 2000 : 2.975.440 jiwa

    Berdasarkan hasil Survei Ekonomi Nasional 2002 diperkirakan jumlah penduduk Kalimantan Selatan bertambah dengan total 3.054.129 jiwa, terdiri dari laki-laki 1.528.939 dan perempuan 1.525.190. Jumlah penduduk tersebut termasuk jumlah penduduk asli dan penduduk pendatang.

    Penduduk asli Kalimantan Selatan terdiri dari berbagai kelompok etnik/ suku, antara lain:
    a. Orang Banjar Kuala; Banjarmasin sampai Martapura
    b. Orang Banjar Batang Banyu; Margasari sampai Kelua
    c. Orang Banjar Pahuluan; Pleihari, Rantau, Kandangan, Barabai, Amuntai, sampai Tanjung
    d. Suku Barangas di Berangas, Ujung Panti, Lupak, Aluh-Aluh
    e. Suku Dayak Dusun Deyah di Muara Uya, Gunung Riut, Upau
    f. Suku Dayak Balangan; daerah Halong dan sekitarnya di Kabupaten Balangan
    g. Suku Maanyan; Dayak Warukin, Pasar Panas, Dayak Samihin
    h. Suku Lawangan di Muara Uya Utara
    i. Suku Abal di Kampung Agung sampai Haruai
    j. Suku Bukit di Awayan (Dayak Pitap), Haruyan, Hantakan, Loksado, Piani, Paramasan, Bajuin, Riam Adungan, Sampahan, Hampang
    k. Suku Bakumpai di Bakumpai, Marabahan, Kuripan, Tabukan

    Selain penduduk asli, terdapat pula penduduk pendatang dari berbagai kelompok etnik/ suku dari luar Kalimantan Selatan, antara lain :
    a. Suku Bugis di Pagatan (Bugis Pagatan) dan sekitarnya di Kabupaten Tanah Bumbu dan Kotabaru
    b. Suku Madura di Madurejo (Madura Madurejo) dan sekitarnya di Kecamatan Pengaron daerah Riam Kiwa Kabupaten Banjar dan Mangkauk
    c. Suku Bajau di Kotabaru, Tanjung Batu
    d. Suku Mandar di Pulau Laut dan Pulau Sebuku
    e.Suku Jawa Tamban di Purwasari Tamban Kabupaten barito Kuala
    f.Orang Cina Parit di Pleihari Kabupaten Tanah Laut
    g.Suku Bali di Barambai Kabupaten Barito Kuala, Sebamban di Kabupaten Kotabaru, dan sedikit di sekitar daerah Pleihari

    Selain itu terdapat pula etnis keturunan Arab yang menempati perkampungan-perkampungan Arab di daerah-daerah tertentu di Kalimantan Selatan.

    Diantara penduduk pendatang tersebut, Suku Bugis-lah yang datang secara legal atau resmi dengan membentuk kerajaan dan membawa budaya asli mereka di Kalimantan Selatan atas izin resmi dari raja Banjar yang berkuasa pada saat itu. Sedangkan penduduk pendatang lainnya datang ke Kalimantan Selatan melalui transmigrasi dan ada juga yang datang secara spontan.

    Kelompok Etnik berdasarkan urutan keberadaannya di Kalimantan Selatan :
    1. Austro-Melanosoid (sudah punah)
    2. Dayak (rumpun Ot Danum)
    3. Suku dayak Bukit
    4. Suku Banjar (1526)
    5. Suku Bajau, Suku Bugis (1750), Suku Mandar
    6. Suku Jawa, Suku Madura
    7. Etnis Tionghoa-Indonesia, Etnis Arab-Indonesia
    8. Etnis Eropa (1860-1924, sudah punah)

    Dengan demikian, dengan adanya pendatang dari luar Kalimantan Selatan terjadi pembauran budaya luar dengan budaya daerah ini di samping pembauran budaya antar etnis yang merupakan penduduk asli Kalimantan Selatan.



{Juni 6, 2008}   Unsur-unsur Kebudayaan
  1. By Melisa Prawita Sari on Apr 16, 2008 | Reply

    Suatu kebudayaan itu memiliki 7 unsur kebudayaan dan setiap kebudayaan pada setiap daerah itu berbeda, perbedaan itu terletak pada wujudnya yang berupa sistem budaya, yang berupa sistem sosial dan yang berupa unsur – unsur kebudayaan fisik. misalnya saja dalam sistem mata pencaharian pada masyarakat pedesaan yaitu bertani atau bercocok tanam berbeda dengan sistem mata pencaharian penduduk yang tinggal di kota. Mereka lebih banyak berkutat pada dunia bisnis,produksi, dan hiburan.
    itu adalah salah satu contoh sederhana perbedaan unsur kebudayaan antara masyarakat pedesaan dengan masyarakat perkotaan dalam sistem mata pencaharian.



{Juni 6, 2008}   Inovasi
  1. By Melisa Prawita Sari on Apr 8, 2008 | Reply

    Adanya discovery dalam bidang teknologi memang sangat membantu masyarakat.Namun, ketika discovery tersebut telah menjadi invention (masyarakat menerima dan menerapkan penemuan baru tersebut).Pada realitanya penemuan baru tersebut meliputi bidang teknolohi yang merupakan bagian dari sebuah kebudayaan.
    Penemuan baru itu diadakan untuk mengubah atau memperbaiki ke keadaan yang lebih baik.Namun, inovasi di Indonesia dalam bidang teknologi masih kurang sehingga perlu adanya dorongan guna meningkatkan kemajuan dalam hal teknologhi tersebut.



  1. By Melisa Prawita Sari on Apr 1, 2008 | Reply

    Asimilasi juga dapat disebut sebagai proses sosial ditandai dengan adanya usaha untuk mengurangi perbedaan untuk mempertinggi kesamaan demi mencapai tujuan bersama. seseorang yang melakukan asimilasi dalam suatu kelompok/ masyarakat tidak lagi membedakan dirinya dengan kelompok/ masyarakat tersebut. Sehingga orang tersebut tidak dianggap sebagai orang asing. Seseorang tersebut cenderung mengidentifikasikan diri (kecenderungan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain) untuk kepentingan/ tujuan kelompok tersebut.
    negara kita Indonesia mungkin dapat dijadikan sebagai contoh bagaimana mudahnya asimilasi atau percampuran budaya terjadi disini tanpa mengalami kepiluan seperti di negara lain, hal ini dikarenakan sifat masyarakat Indonesia yang memiliki toleransi, memberikan kesempatan, saling menghargai, dan sikap terbuka dari golongan yang berkuasa di dalam masyarakat. meskipun negara kita sangat mudah terpengaruh dengan kebudayaan luar, hendaknya kita dapat memilah sendiri mana yang baik untuk kita dan tidak asal dalam menerima kebudayaan-kebudayaan baru tersebut, agar perbedaan yang kita miliki sekarang tidak menjadi pertikaian, karena perbedaanlah yang menjadikan negara kita indah.



{Juni 6, 2008}   Akulturasi
  1. By Melisa Prawita Sari on Apr 1, 2008 | Reply

    seiring berjalannya waktu, kebudayaan dan zaman pun akan semakin berkembang. salah satu yang menyebabkan berkembangnya budaya adalah karena adanya akulturasi atau percampuran suatu kebudayaan dengan kebudayaan luar/ asing tetapi tidak menghilangkan unsur-unsur dari kebudayaan asli tersebut. dengan masuknya unsur-unsur kebudayaan asing, ada yang mudah diterima dan ada yang sukar diterima/ hanya sebagian masyarakat saja yang menerima unsur-unsur kebudayaan tersebut. contoh kecil seperti yang terjadi di zaman sekarang adanya ajang pencarian wanita paling cantik dan pintar sedunia, Indonesia pun turut mengirim perwakilan untuk mengikuti ajang tersebut. sebagian masyarakat menolak ajang itu karena dianggap ajang mempertontonkan aurat karena masyarakat Indonesia mayoritas muslim, tetapi sebagian lagi menerima karena ajang tersebut dianggap sebagai ajang “kebanggaan”, dapat mengangkat harkat dan martabat suatu negara di mata dunia.
    demikianlah, sepanjang kontak antar manusia terus terjadi maka persentuhan budaya/ akulturasi akan terus terjadi dengan segala permasalahannya karena tidak semua kebudayaan baru/ asing dapat diterima langsung oleh masyarakat.



  1. By Melisa Prawita Sari on Mar 18, 2008 | Reply

    Di negara kita Indonesia terjadi tarik-menarik kebudayaan diantaranya kebudayaan barat (Eropa,Cina,India,Arab,dll). Karena negara kita berada di posisi strategis/ persilangan lalu lintas dunia.OLeh karena itulah, masyarakat kita dapat dengan mudah terpngaruh kebudayaan dari luar namun dengan masuknya berbagai unsur kebudayaan tersebut masyarakat kita amsih mampu mempertahankan kebudayaan aslinya ( local Genius ).
    Disamping menyerap budaya – budaya dari luar kebudayaan kita juga banyak diserap atau diambil bahkan dipatenkan oleh negara lain semisal lagu Rasa sayange, reog ponorogo diakui oleh Malaysia itu merupakan kebudayaan milik mereka bahkan tempe, batik, sasirangan dipatenkan Jepang sebagai milik mereka. Hal ini dikarenakan lemahnya persatuan kita dalam menjaga aset budaya.
    Perubahan dan perkembangan kebudayaan sekarang berjalan begitu cepat hal ini tentu tidak lepas dari canggihnya sarana komunikasi, trnasportasi dan media massa sehingga membuat peristiwa yang terjadi di belahan bumi lain dapat dengan cepat kita ketahui. Dengan demikian belahan dunia yang satu tidak dapat menutup diri dari pengaruh belahan dunia lain, ibaratnya dunia ini bagaikan sebuah desa global yang dapat dijangkau, didekati bahkan saling mempengaruhi.
    Penyebaran unsur – unsur kebudayaan/ proses difusi dapat mempengaruhi pola pikir, tingkah laku, budaya, sosial dan politik kita. Hal itu merupakan proses yang sangat kompelks. Kita sebagai masyarakat dapat menghadapinya dengan memandang secara positif atau memandang perubahan tersebut sebagai proses menuju masyarakat Indonesia yang baru dan modern.sekarang tergantung sikap kita masing- masing apakah menyerap unsur – unsur asing tersebut mengambil sisi positifnya atau sisi negatifnya atau yang mrugikan.



{Juni 6, 2008}   Proses Belajar Kebudayaan
  1. By Melisa Prawita Sari on Mar 5, 2008 | Reply

    Manusia itu adalah makhluk yang berbudaya,dalam proses budaya ada penurunan budaya antara generasi tua kepada generasi tua yang menyebabkan budaya itu tetap ada, sehingga dalam kebudayaan itu ada proses pembelajaran yang akan dialami oleh setiap individu.oleh karena itu perkembangan kebudayaan itu bergantung pada manusia. Jika dalam proses belajar kebudayaan itu, manusia bisa mengembangkan diri dan pikiranya maka akan menghasilkan suatu kebudayaan yang berkualitas.



dan lain-lain