Melisaprawitasari’s Weblog











{Juni 6, 2008}   Tantangan Buat Mahasiswa
  1. By Melisa Prawita Sari on May 17, 2008 | Reply

    KONDISI PADA SAAT UJIAN AKHIR (FINAL TEST) DI FKIP UNLAM

    Ujian akhir semester (UAS/ Final test) merupakan agenda yang wajib dilaksanakn oleh setiap institusi pendidikan, tak terkecuali FKIP Unlam. Ujian akhir semester tersebut bisa menjadi agenda yang ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa karena ujian tersebut merupakan akhir dari perkuliahan dan para mahasiswa dapat berlibur panjang setelahnya tetapi ada juga yang menyesalkan mengapa harus ada ujian di tiap akhir semester?

    Disini akan sedikit digambarkan bagaimana keadaan pada saat final test di FKIP Unlam berlangsung. Pelaksanaan ujian akhir semester tersebut dapat dikatakan kurang teratur dan terencana. Why ??? mari telusuri tulisan ini dan kita akan temukan jawabannya.

    Tidak usah ‘lah jauh-jauh studi banding ke luar daerah atau bahkan ke luar negri, cukup studi banding ke kampus tetangga kita yaitu Fakultas Ekonomi(Fekon) yang berada diseberang kampus FKIP. Hampir setiap hari saya ke Fekon karena banyak teman-teman satu SMA saya kuliah di sana dan hampir setiap hari pula saya merasa sedikit iri dengan fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh Fekon, bagaimana tidak? bayangkan saja di setap ruang kuliah/ kelas di Fekon memiliki AC, pengeras suara, komputer, OHP, kursi yang baru, dan tersedia makanan kecil/ kue serta segelas minuman untuk dosen yang sedang mengajar. Kalau di FKIP memang ada fasilitas seperti itu tetapi yang ada hanyalah kipas angin yang sekarang kondisinya banyak yang tidak layak pakai, OHP dan pengeras suara yang tidak tersedia di seluruh ruangan kelas karena jumlahnya yang terbatas. Fekon juga memiliki ruang multimedia dengan jumlah komputer yang banyak sehingga para mahasiswanya tidak perlu antri/ berebutan untuk menggunakan internet gratis. Cukup sampai di situ, ini sekedar intermezo yang membuat saya sedikit iri terhadap fasilitas yang ada di kampus tersebut. Namun hal ini tidak membuat saya berkeinginan untuk kuliah di sana, hanya dapat berharap kapan kampus saya (FKIP) akan memiliki fasilitas seperti itu dan saya tidak akan membahas masalah ini karena saya akan membahas bagaimana keadaan pada saat ujian akhir semester berlangsung di FKIP.

    Satu saat ketika menjelang final test saya kembali bermain-main ke Fekon, di sana saya lihat teman-teman saya begitu sibuk mempersiapkan segala macam keperluan untuk melaksanakan final test. Untuk dapat mengikuti final test setiap mahasiswa diwajibkan membayar iuran IKOMA (Ikatan Orang Tua Mahasiswa) uang tersebut digunakan untuk membayar soal dan kursi untuk ujian dan setelah membayar iuran tersebut setiap mahasiswa akan mendapatkan nomor ujian/ kartu tanda peserta ujian, kartu tersebut dilengkapi dengan pas foto mereka masing-masing dan setiap kursi disusun sedemikian rupa serta ditempeli foto mahasiswa yang akan melaksanakan ujian. Ketika ujian akhir berlangsung para mahasiswa Fekon terlihat tenang, kenapa? karena mereka duduk diatur saling berjauhan dan dosen yang mengawasi ujian tersebut turut membawa beberapa ‘algojo’ (asisten) mereka untuk ikut mengawasi berlangsungnya ujian. Alhasil, para mahasiswa tidak memiliki kesempatan untuk saling menyontek, kalaupun ada tentu bukanlah hal yang mudah untuk menyontek dalam keadaan seperti itu. Ketika ujian akhir telah selesai dan sampai pada waktu pengumuman hasil ujian, seluruh hasil ujian mahasiswa ditempel diseluruh mading yang ada di Fekon, itu berarti Fekon memiliki mading yang banyak untuk menempel nilai-nilai ujian tersebut.

    kemudian…

    Cobalah kita tengok apa yang terjadi di FKIP ketika ujian akhir/ final test akan berlangsung? di FKIP sebelum ujian akhir mahasiswa hanya mendapatkan jadwal ujian yang dapat diperoleh melalui warung fotocopy yang ada di dalam kampus FKIP. Di jadwal tersebut terdapat nama dosen, mata kuliah serta waktu dan tempat/ ruangan untuk ujian. Mahasiswa FKIP hanya mendapatkan jadwal ujian tersebut tanpa mendapatkan nomor ujian/ kartu tanda peserta ujian, kenapa? entahlah…

    Ketika ujian akhir berlangsung pun mahasiswa boleh-boleh saja duduk di kursi manapun yang mereka mau karena tempat duduk mereka tidak diatur dan para mahasiswa siap dengan berbagai macam strategi untuk mengelabui dosen yang mengawasi ujian agar mereka dapat menyontek atau bahkan membuka buku dan contekan/ tulisan kecil yang sudah mereka siapkan, para mahasiswa pun ‘mendempet-dempetkan’ kursi dengan teman-temannya agar proses contek-menyontek lebih mudah.

    Dalam satu ruangan/kelas ujian akhir biasanya hanya diawasi oleh satu orang dosen dengan mahasiswa yang biasanya mencapai 30-60an orang dalam satu kelas, dapat dibayangkan kan? Apalagi ketika ujian akhir tersebut merupakan ujian mata kuliah umum, mahasiswa dari beberapa program studi (biasanya 4 prodi) digabungkan dalam satu ruangan/ kelas (biasanya dilaksanakan di aula/ ruangan yang agak ’sedikit’ besar) dan ujian mata kuliah umum tersebut pun hanya di awasi oleh satu orang dosen, lebih gawat lagi kan?

    Pada saat pengumuman hasil ujian pun, nilai ujian tersebut hanya ditaruh dalam satu map untuk setiap prodi, sehingga para mahasiswa biasanya harus antri bahkan berebut untuk melihat nilai ujian mereka. Bahkan bisa juga map nilai tersebut hilang, entah siapa yang telah menghilangkannya. Kenapa ini terjadi? Apakah mungkin karena mading-mading di FKIP tidak cukup untuk memajang nilai-nilai ujian para mahasiswanya?

    Sebenarnya dengan sistem ujian akhir di FKIP yang telah saya paparkan tersebut, para mahasiswanya tidak memiliki keluhan yang berarti, mungkin ada juga mahasiswa yang setuju dengan sistem tersebut karena itu artinya dosen-dosen di FKIP percaya penuh kepada para mahasiswanya dalam melaksanakan ujian dan dosen-dosen FKIP pun mungkin sangat percaya pada diri mereka sendiri bahwa mereka sanggup mengawasi ujian para mahasiswanya itu seorang diri. Dengan adanya sistem ujian akhir seperti yang ada di FKIP, semoga para mahasiswa FKIP dapat menggunakan azas kejujuran dan jangan menyalahgunakan kepercayaan yang telah sepenuhnya diberikan oleh para dosen pada saat ujian akhir tersebut berlangsung. Semoga…

    Para mahasiswa FKIP sebenarnya tidak ingin melakukan kecurangan dalam melaksanakan setiap ujian karena mereka merupakan orang-orang intelektual/ calon guru, tidak sepantasnya ‘kan calon guru melakukan kecurangan-kecuarangan tersebut? apa nanti kata dunia ?

    Namun, menyontek/ kecurangan-kecurangan lainnya yang terjadi pada saat berlangsungnya ujian akhir bukan hanya karena niat tapi juga karena ada kesempatan.
    Waspadalah… Waspadalah !!!



dan lain-lain