-
By Melisa Prawita Sari on May 9, 2008 | Reply
BAB VII
ETNOGRAFI BANJAR7. 1 KONDISI OBJEKTIF
1. Lokasi
Secara geografis Propinsi Kalimantan Selatan terletak pada garis 140° 19’13″ sampai dengan 116°33’14″ BT dan 1°21’49″ sampai dengan 4°10’14″LS. Propinsi Kalimantan Selatan mempunyai wilayah seluas 37.530, 52 km2 atau sekitar 6,98% dari luas Pulau Kalimantan. Secara administratif Propinsi Kalimantan Selatan Ibukotanya adalah Banjarmasin. terletak di bagian tenggara Pulau Kalimantan, batasnya :• Sebelah Utara : berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Timur
• Sebelah Selatan : berbatasan dengan Laut Jawa
• Sebelah Timur : berbatasan dengan Selat Makassar
• Sebelah Barat : berbatasan dengan Propinsi Kalimantan TengahPenduduk Kalimantan Selatan biasanya menyebut wilayah Banjarmasin dengan sebutan ‘Banjar’, pada mulanya Banjar adalah sebutan untuk kampung yang dihuni oleh orang-orang Melayu. Orang-orang Ngaju menyebut orang-orang Melayu yang tinggal di kawasan sepanjang sungai dengan sebutan ‘Banjar Masih’, yang artinya kampung-kampung orang Melayu, dan berdasarkan geografi politik tradisional, Banjar juga adalah sebuah nama kerajaan Islam yang pada awalnya terletak di Banjarmasin. Ketika proses pembentukan Kerajaan Banjar, Banjar Masih mempunyai pelabuhan dagang yang disebut orang Ngaju ‘Bandar Masih’ artinya Bandarnya orang Melayu dan dijadikan sebagai ibukota kerajaan Banjar yang kemudian menjadi kota Banjarmasin.
2. Keadaan Alam Kalimantan Selatan
Sebagian besar Pulau Kalimantan terbangun dari sedimen laut yang berasal dari Laut Jawa dan laut Cina Selatan. Bagian Barat Daya pulau ini terdiri dari singkapan batu berumur 400 juta tahun, pada masa lalu merupakan bagian dari Dataran Sunda yang dulu pernah menyatu dengan Semenanjung Melayu, jawa, dan Sumatera.
Dari segi topografi di wilayah Kalimantan Selatan terbentang Pegunungan Meratus, terbentang dari Utara ke selatan dan membagi wilayah menjadi Wilayah Barat dan Wilayah Timur. Wilayah Propinsi Kalimantan Selatan mempunyai kemiringan tanah 0-2 % dan sebagian besar berada pada kelas ketinggian 25-100 m di atas permukaan laut.Wilayah Pegunungan Meratus merupakan daerah yang terpisah secara khusus dari daerah perbukitan yang lain dan merupakn lahan yang kaya akan tumbuh-tumbuhan spesifik, terutama anggrek. Jenis fauna tidak hanya tergantung oleh tipe habitat, tetapi juga batasan-batasan geografis pegunungan dan sungai-sungai. Flora resmi di Kalimantan Selatan adalah Kasturi (Mangifera casturi) dan fauna resminya adalah Bekantan (Nasalis larvatus).
Secara geologis, sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan terdiri dari batu endapan dan batuan beku, dengan bentuk morfologi yang dapat dibagi menjadi 4 bentuk, yaitu :
• Dataran alluvial : 589.243 ha
• Dataran : 1.171.944 ha
• Pegunungan : 1.259.456 ha
Dengan demikian wilayah Kalimantan Selatan didominasi oleh bentuk morfologi daratan dan pegunungan,masing-masing 33,89% dan 33,56%.Daerah Kalimantan Selatan banyak dialiri sungai besar maupun sungai kecil. Sungai terbesar adalah sungai Barito anak sungainya Sungai Bahan dan Sungai Negara. Dekat Banjarmasin, Sungai Barito mempunyai cabang Sungai Martapura dan anak-anak Sungai Riam kanan dan Riam Kiwa. Daerah aliran sungai lainnya yang terdapat di Propinsi Kalimantan Selatan adalah : Tabanio, Kintap, Satui, Kusan, Batulicin, Pulau Laut, Pulau Sebuku, Cantung, Sampanahan, Manunggal dan Cengal. Dan memiliki catchment area sebanyak 10 (sepuluh) lokasi yaitu Binuang, Tapin, Telaga Langsat, Mangkuang, Haruyan Dayak, Intangan, Kahakan, Jaro,dan Batulicin.
3. Penduduk
Penduduk yang mendiami Propinsi Kalimantan Selatan biasanya disebut ‘Urang Banjar’ (Orang Banjar), walaupun penduduk di Kalimantan Selatan bukan seluruhnya etnik/ suku Banjar asli.
Ketika Banjarmasin lahir di tahun 1526 yang merupakan lahirnya kerajaan Banjar, penduduknya adalah campuran dari unsur Melayu, Ngaju, Maanyan, Bukit, Jawa dan suku-suku kecil lainnya yang dipersatukan oleh agama Islam, berbahasa dan beradat istiadat Banjar. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya dengan inti pembentukan persatuan etnik lahir kelompok besar yaitu kelompok Banjar Kuala, kelompok Banjar Batang Banyu, dan Kelompok Banjar Pahuluan.
Delapan etnik/ suku terbanyak di Kalimantan Selatan berdasarkan sensus 2000 (dalam sensus belum disebutkan beberapa suku terkecil yang merupakan penduduk asli) :
1. Suku Banjar : 2.271.586 jiwa
2. Suku Jawa : 391.030 jiwa
3. Suku Bugis : 73.037 jiwa
4. Suku Madura : 36.334 jiwa
5. Suku Buket : 35.838 jiwa
6. Suku Mandar : 29.322 jiwa
7. Suku Bakumpai : 20.609 jiwa
8. Suku Sunda : 18.519 jiwa
9. Lainnya : 99.165 jiwa
Total penduduk Propinsi Kalimantan Selatan tahun 2000 : 2.975.440 jiwaBerdasarkan hasil Survei Ekonomi Nasional 2002 diperkirakan jumlah penduduk Kalimantan Selatan bertambah dengan total 3.054.129 jiwa, terdiri dari laki-laki 1.528.939 dan perempuan 1.525.190. Jumlah penduduk tersebut termasuk jumlah penduduk asli dan penduduk pendatang.
Penduduk asli Kalimantan Selatan terdiri dari berbagai kelompok etnik/ suku, antara lain:
a. Orang Banjar Kuala; Banjarmasin sampai Martapura
b. Orang Banjar Batang Banyu; Margasari sampai Kelua
c. Orang Banjar Pahuluan; Pleihari, Rantau, Kandangan, Barabai, Amuntai, sampai Tanjung
d. Suku Barangas di Berangas, Ujung Panti, Lupak, Aluh-Aluh
e. Suku Dayak Dusun Deyah di Muara Uya, Gunung Riut, Upau
f. Suku Dayak Balangan; daerah Halong dan sekitarnya di Kabupaten Balangan
g. Suku Maanyan; Dayak Warukin, Pasar Panas, Dayak Samihin
h. Suku Lawangan di Muara Uya Utara
i. Suku Abal di Kampung Agung sampai Haruai
j. Suku Bukit di Awayan (Dayak Pitap), Haruyan, Hantakan, Loksado, Piani, Paramasan, Bajuin, Riam Adungan, Sampahan, Hampang
k. Suku Bakumpai di Bakumpai, Marabahan, Kuripan, TabukanSelain penduduk asli, terdapat pula penduduk pendatang dari berbagai kelompok etnik/ suku dari luar Kalimantan Selatan, antara lain :
a. Suku Bugis di Pagatan (Bugis Pagatan) dan sekitarnya di Kabupaten Tanah Bumbu dan Kotabaru
b. Suku Madura di Madurejo (Madura Madurejo) dan sekitarnya di Kecamatan Pengaron daerah Riam Kiwa Kabupaten Banjar dan Mangkauk
c. Suku Bajau di Kotabaru, Tanjung Batu
d. Suku Mandar di Pulau Laut dan Pulau Sebuku
e.Suku Jawa Tamban di Purwasari Tamban Kabupaten barito Kuala
f.Orang Cina Parit di Pleihari Kabupaten Tanah Laut
g.Suku Bali di Barambai Kabupaten Barito Kuala, Sebamban di Kabupaten Kotabaru, dan sedikit di sekitar daerah PleihariSelain itu terdapat pula etnis keturunan Arab yang menempati perkampungan-perkampungan Arab di daerah-daerah tertentu di Kalimantan Selatan.
Diantara penduduk pendatang tersebut, Suku Bugis-lah yang datang secara legal atau resmi dengan membentuk kerajaan dan membawa budaya asli mereka di Kalimantan Selatan atas izin resmi dari raja Banjar yang berkuasa pada saat itu. Sedangkan penduduk pendatang lainnya datang ke Kalimantan Selatan melalui transmigrasi dan ada juga yang datang secara spontan.
Kelompok Etnik berdasarkan urutan keberadaannya di Kalimantan Selatan :
1. Austro-Melanosoid (sudah punah)
2. Dayak (rumpun Ot Danum)
3. Suku dayak Bukit
4. Suku Banjar (1526)
5. Suku Bajau, Suku Bugis (1750), Suku Mandar
6. Suku Jawa, Suku Madura
7. Etnis Tionghoa-Indonesia, Etnis Arab-Indonesia
8. Etnis Eropa (1860-1924, sudah punah)Dengan demikian, dengan adanya pendatang dari luar Kalimantan Selatan terjadi pembauran budaya luar dengan budaya daerah ini di samping pembauran budaya antar etnis yang merupakan penduduk asli Kalimantan Selatan.
-
By Melisa Prawita Sari on Apr 16, 2008 | Reply
Suatu kebudayaan itu memiliki 7 unsur kebudayaan dan setiap kebudayaan pada setiap daerah itu berbeda, perbedaan itu terletak pada wujudnya yang berupa sistem budaya, yang berupa sistem sosial dan yang berupa unsur – unsur kebudayaan fisik. misalnya saja dalam sistem mata pencaharian pada masyarakat pedesaan yaitu bertani atau bercocok tanam berbeda dengan sistem mata pencaharian penduduk yang tinggal di kota. Mereka lebih banyak berkutat pada dunia bisnis,produksi, dan hiburan.
itu adalah salah satu contoh sederhana perbedaan unsur kebudayaan antara masyarakat pedesaan dengan masyarakat perkotaan dalam sistem mata pencaharian.
-
By Melisa Prawita Sari on Apr 8, 2008 | Reply
Adanya discovery dalam bidang teknologi memang sangat membantu masyarakat.Namun, ketika discovery tersebut telah menjadi invention (masyarakat menerima dan menerapkan penemuan baru tersebut).Pada realitanya penemuan baru tersebut meliputi bidang teknolohi yang merupakan bagian dari sebuah kebudayaan.
Penemuan baru itu diadakan untuk mengubah atau memperbaiki ke keadaan yang lebih baik.Namun, inovasi di Indonesia dalam bidang teknologi masih kurang sehingga perlu adanya dorongan guna meningkatkan kemajuan dalam hal teknologhi tersebut.
-
By Melisa Prawita Sari on Apr 1, 2008 | Reply
Asimilasi juga dapat disebut sebagai proses sosial ditandai dengan adanya usaha untuk mengurangi perbedaan untuk mempertinggi kesamaan demi mencapai tujuan bersama. seseorang yang melakukan asimilasi dalam suatu kelompok/ masyarakat tidak lagi membedakan dirinya dengan kelompok/ masyarakat tersebut. Sehingga orang tersebut tidak dianggap sebagai orang asing. Seseorang tersebut cenderung mengidentifikasikan diri (kecenderungan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain) untuk kepentingan/ tujuan kelompok tersebut.
negara kita Indonesia mungkin dapat dijadikan sebagai contoh bagaimana mudahnya asimilasi atau percampuran budaya terjadi disini tanpa mengalami kepiluan seperti di negara lain, hal ini dikarenakan sifat masyarakat Indonesia yang memiliki toleransi, memberikan kesempatan, saling menghargai, dan sikap terbuka dari golongan yang berkuasa di dalam masyarakat. meskipun negara kita sangat mudah terpengaruh dengan kebudayaan luar, hendaknya kita dapat memilah sendiri mana yang baik untuk kita dan tidak asal dalam menerima kebudayaan-kebudayaan baru tersebut, agar perbedaan yang kita miliki sekarang tidak menjadi pertikaian, karena perbedaanlah yang menjadikan negara kita indah.
-
By Melisa Prawita Sari on Apr 1, 2008 | Reply
seiring berjalannya waktu, kebudayaan dan zaman pun akan semakin berkembang. salah satu yang menyebabkan berkembangnya budaya adalah karena adanya akulturasi atau percampuran suatu kebudayaan dengan kebudayaan luar/ asing tetapi tidak menghilangkan unsur-unsur dari kebudayaan asli tersebut. dengan masuknya unsur-unsur kebudayaan asing, ada yang mudah diterima dan ada yang sukar diterima/ hanya sebagian masyarakat saja yang menerima unsur-unsur kebudayaan tersebut. contoh kecil seperti yang terjadi di zaman sekarang adanya ajang pencarian wanita paling cantik dan pintar sedunia, Indonesia pun turut mengirim perwakilan untuk mengikuti ajang tersebut. sebagian masyarakat menolak ajang itu karena dianggap ajang mempertontonkan aurat karena masyarakat Indonesia mayoritas muslim, tetapi sebagian lagi menerima karena ajang tersebut dianggap sebagai ajang “kebanggaan”, dapat mengangkat harkat dan martabat suatu negara di mata dunia.
demikianlah, sepanjang kontak antar manusia terus terjadi maka persentuhan budaya/ akulturasi akan terus terjadi dengan segala permasalahannya karena tidak semua kebudayaan baru/ asing dapat diterima langsung oleh masyarakat.
-
By Melisa Prawita Sari on Mar 18, 2008 | Reply
Di negara kita Indonesia terjadi tarik-menarik kebudayaan diantaranya kebudayaan barat (Eropa,Cina,India,Arab,dll). Karena negara kita berada di posisi strategis/ persilangan lalu lintas dunia.OLeh karena itulah, masyarakat kita dapat dengan mudah terpngaruh kebudayaan dari luar namun dengan masuknya berbagai unsur kebudayaan tersebut masyarakat kita amsih mampu mempertahankan kebudayaan aslinya ( local Genius ).
Disamping menyerap budaya – budaya dari luar kebudayaan kita juga banyak diserap atau diambil bahkan dipatenkan oleh negara lain semisal lagu Rasa sayange, reog ponorogo diakui oleh Malaysia itu merupakan kebudayaan milik mereka bahkan tempe, batik, sasirangan dipatenkan Jepang sebagai milik mereka. Hal ini dikarenakan lemahnya persatuan kita dalam menjaga aset budaya.
Perubahan dan perkembangan kebudayaan sekarang berjalan begitu cepat hal ini tentu tidak lepas dari canggihnya sarana komunikasi, trnasportasi dan media massa sehingga membuat peristiwa yang terjadi di belahan bumi lain dapat dengan cepat kita ketahui. Dengan demikian belahan dunia yang satu tidak dapat menutup diri dari pengaruh belahan dunia lain, ibaratnya dunia ini bagaikan sebuah desa global yang dapat dijangkau, didekati bahkan saling mempengaruhi.
Penyebaran unsur – unsur kebudayaan/ proses difusi dapat mempengaruhi pola pikir, tingkah laku, budaya, sosial dan politik kita. Hal itu merupakan proses yang sangat kompelks. Kita sebagai masyarakat dapat menghadapinya dengan memandang secara positif atau memandang perubahan tersebut sebagai proses menuju masyarakat Indonesia yang baru dan modern.sekarang tergantung sikap kita masing- masing apakah menyerap unsur – unsur asing tersebut mengambil sisi positifnya atau sisi negatifnya atau yang mrugikan.
-
By Melisa Prawita Sari on Mar 5, 2008 | Reply
Manusia itu adalah makhluk yang berbudaya,dalam proses budaya ada penurunan budaya antara generasi tua kepada generasi tua yang menyebabkan budaya itu tetap ada, sehingga dalam kebudayaan itu ada proses pembelajaran yang akan dialami oleh setiap individu.oleh karena itu perkembangan kebudayaan itu bergantung pada manusia. Jika dalam proses belajar kebudayaan itu, manusia bisa mengembangkan diri dan pikiranya maka akan menghasilkan suatu kebudayaan yang berkualitas.
-
By Melisa Prawita Sari on Feb 27, 2008 | Reply
Perdagangan di Indonesia telah lama terjadi jauh sebelum adanya kerajaan-kerajaan Nusantara. Perdagangan-perdagangan di Indonesia banyak menggunakan jalur laut karena Indonesia merupakan negara kepulauan yang banyak memiliki pulau dan laut. Letak Indonesia sangat strategis begitupula kekayaan yang dimiliki Indonesia, oleh karna itu bangsa-bangsa Eropa pun datang ke Indonesia dengan dalil Gospel, Gold, dan Glory. Alih-alih mengajak Indonesia bekerjasama dalam perdagangan, mereka malah merampas kekayaan yang dimiliki Indonesia. Bangsa Indonesia memang sudah dibodohi terutama dalam bidang perdagangan karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang konsumtif, malas bekerja keras dan lebih senang dengan yang instan dan sampai zaman modern sekarang inipun bangsa kita lebih suka mengkonsumsi barang-barang buatan luar negri dan memang itulah sebenarnya tujuan dari bangsa-bangsa asing tersebut, menguasai industri dan perdagangan di dunia secara umum, Indonesia khususnya. dari perjalanan bangsa-bangsa asing ke Indonesia untuk berdagang, Antropologi lebih berkembang sehingga dapat mempelajari tentang penyebaran dan kebudayaan manusia, termasuk penyebaran dan kebudayaan manusia dalam hal perdagangan.
By Melisa Prawita Sari on May 17, 2008 | Reply
KONDISI PADA SAAT UJIAN AKHIR (FINAL TEST) DI FKIP UNLAM
Ujian akhir semester (UAS/ Final test) merupakan agenda yang wajib dilaksanakn oleh setiap institusi pendidikan, tak terkecuali FKIP Unlam. Ujian akhir semester tersebut bisa menjadi agenda yang ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa karena ujian tersebut merupakan akhir dari perkuliahan dan para mahasiswa dapat berlibur panjang setelahnya tetapi ada juga yang menyesalkan mengapa harus ada ujian di tiap akhir semester?
Disini akan sedikit digambarkan bagaimana keadaan pada saat final test di FKIP Unlam berlangsung. Pelaksanaan ujian akhir semester tersebut dapat dikatakan kurang teratur dan terencana. Why ??? mari telusuri tulisan ini dan kita akan temukan jawabannya.
Tidak usah ‘lah jauh-jauh studi banding ke luar daerah atau bahkan ke luar negri, cukup studi banding ke kampus tetangga kita yaitu Fakultas Ekonomi(Fekon) yang berada diseberang kampus FKIP. Hampir setiap hari saya ke Fekon karena banyak teman-teman satu SMA saya kuliah di sana dan hampir setiap hari pula saya merasa sedikit iri dengan fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh Fekon, bagaimana tidak? bayangkan saja di setap ruang kuliah/ kelas di Fekon memiliki AC, pengeras suara, komputer, OHP, kursi yang baru, dan tersedia makanan kecil/ kue serta segelas minuman untuk dosen yang sedang mengajar. Kalau di FKIP memang ada fasilitas seperti itu tetapi yang ada hanyalah kipas angin yang sekarang kondisinya banyak yang tidak layak pakai, OHP dan pengeras suara yang tidak tersedia di seluruh ruangan kelas karena jumlahnya yang terbatas. Fekon juga memiliki ruang multimedia dengan jumlah komputer yang banyak sehingga para mahasiswanya tidak perlu antri/ berebutan untuk menggunakan internet gratis. Cukup sampai di situ, ini sekedar intermezo yang membuat saya sedikit iri terhadap fasilitas yang ada di kampus tersebut. Namun hal ini tidak membuat saya berkeinginan untuk kuliah di sana, hanya dapat berharap kapan kampus saya (FKIP) akan memiliki fasilitas seperti itu dan saya tidak akan membahas masalah ini karena saya akan membahas bagaimana keadaan pada saat ujian akhir semester berlangsung di FKIP.
Satu saat ketika menjelang final test saya kembali bermain-main ke Fekon, di sana saya lihat teman-teman saya begitu sibuk mempersiapkan segala macam keperluan untuk melaksanakan final test. Untuk dapat mengikuti final test setiap mahasiswa diwajibkan membayar iuran IKOMA (Ikatan Orang Tua Mahasiswa) uang tersebut digunakan untuk membayar soal dan kursi untuk ujian dan setelah membayar iuran tersebut setiap mahasiswa akan mendapatkan nomor ujian/ kartu tanda peserta ujian, kartu tersebut dilengkapi dengan pas foto mereka masing-masing dan setiap kursi disusun sedemikian rupa serta ditempeli foto mahasiswa yang akan melaksanakan ujian. Ketika ujian akhir berlangsung para mahasiswa Fekon terlihat tenang, kenapa? karena mereka duduk diatur saling berjauhan dan dosen yang mengawasi ujian tersebut turut membawa beberapa ‘algojo’ (asisten) mereka untuk ikut mengawasi berlangsungnya ujian. Alhasil, para mahasiswa tidak memiliki kesempatan untuk saling menyontek, kalaupun ada tentu bukanlah hal yang mudah untuk menyontek dalam keadaan seperti itu. Ketika ujian akhir telah selesai dan sampai pada waktu pengumuman hasil ujian, seluruh hasil ujian mahasiswa ditempel diseluruh mading yang ada di Fekon, itu berarti Fekon memiliki mading yang banyak untuk menempel nilai-nilai ujian tersebut.
kemudian…
Cobalah kita tengok apa yang terjadi di FKIP ketika ujian akhir/ final test akan berlangsung? di FKIP sebelum ujian akhir mahasiswa hanya mendapatkan jadwal ujian yang dapat diperoleh melalui warung fotocopy yang ada di dalam kampus FKIP. Di jadwal tersebut terdapat nama dosen, mata kuliah serta waktu dan tempat/ ruangan untuk ujian. Mahasiswa FKIP hanya mendapatkan jadwal ujian tersebut tanpa mendapatkan nomor ujian/ kartu tanda peserta ujian, kenapa? entahlah…
Ketika ujian akhir berlangsung pun mahasiswa boleh-boleh saja duduk di kursi manapun yang mereka mau karena tempat duduk mereka tidak diatur dan para mahasiswa siap dengan berbagai macam strategi untuk mengelabui dosen yang mengawasi ujian agar mereka dapat menyontek atau bahkan membuka buku dan contekan/ tulisan kecil yang sudah mereka siapkan, para mahasiswa pun ‘mendempet-dempetkan’ kursi dengan teman-temannya agar proses contek-menyontek lebih mudah.
Dalam satu ruangan/kelas ujian akhir biasanya hanya diawasi oleh satu orang dosen dengan mahasiswa yang biasanya mencapai 30-60an orang dalam satu kelas, dapat dibayangkan kan? Apalagi ketika ujian akhir tersebut merupakan ujian mata kuliah umum, mahasiswa dari beberapa program studi (biasanya 4 prodi) digabungkan dalam satu ruangan/ kelas (biasanya dilaksanakan di aula/ ruangan yang agak ’sedikit’ besar) dan ujian mata kuliah umum tersebut pun hanya di awasi oleh satu orang dosen, lebih gawat lagi kan?
Pada saat pengumuman hasil ujian pun, nilai ujian tersebut hanya ditaruh dalam satu map untuk setiap prodi, sehingga para mahasiswa biasanya harus antri bahkan berebut untuk melihat nilai ujian mereka. Bahkan bisa juga map nilai tersebut hilang, entah siapa yang telah menghilangkannya. Kenapa ini terjadi? Apakah mungkin karena mading-mading di FKIP tidak cukup untuk memajang nilai-nilai ujian para mahasiswanya?
Sebenarnya dengan sistem ujian akhir di FKIP yang telah saya paparkan tersebut, para mahasiswanya tidak memiliki keluhan yang berarti, mungkin ada juga mahasiswa yang setuju dengan sistem tersebut karena itu artinya dosen-dosen di FKIP percaya penuh kepada para mahasiswanya dalam melaksanakan ujian dan dosen-dosen FKIP pun mungkin sangat percaya pada diri mereka sendiri bahwa mereka sanggup mengawasi ujian para mahasiswanya itu seorang diri. Dengan adanya sistem ujian akhir seperti yang ada di FKIP, semoga para mahasiswa FKIP dapat menggunakan azas kejujuran dan jangan menyalahgunakan kepercayaan yang telah sepenuhnya diberikan oleh para dosen pada saat ujian akhir tersebut berlangsung. Semoga…
Para mahasiswa FKIP sebenarnya tidak ingin melakukan kecurangan dalam melaksanakan setiap ujian karena mereka merupakan orang-orang intelektual/ calon guru, tidak sepantasnya ‘kan calon guru melakukan kecurangan-kecuarangan tersebut? apa nanti kata dunia ?
Namun, menyontek/ kecurangan-kecurangan lainnya yang terjadi pada saat berlangsungnya ujian akhir bukan hanya karena niat tapi juga karena ada kesempatan.
Waspadalah… Waspadalah !!!