Melisaprawitasari’s Weblog











{Juni 18, 2009}  
                                 

Perhitungan Reliabilitas  

No. 

Nama 

Skor 

Ganjil 

Genap 

 

 

XY 

1 

2 

3 

4 

5 

6 

7 

8 

9 

`10 

1 

Icha

1 

1 

0 

1 

1 

0 

1 

1 

0 

1 

3 

4 

9 

16 

12 

2 

Iwie

1 

0 

1 

1 

1 

0 

1 

1 

1 

1 

5 

3 

25 

9 

15 

3 

Imien

0 

1 

0 

1 

1 

1 

1 

1 

1 

1 

3 

5 

9 

25 

15 

4 

Ishiel

1 

1 

0 

1 

1 

1 

0 

1 

1 

0 

3 

4 

9 

16 

12 

5 

Ichan

1 

1 

1 

1 

0 

0 

1 

1 

1 

1 

4 

4 

16 

16 

8 

6 

Izho

0 

1 

0 

1 

1 

1 

0 

1 

1 

1 

2 

5 

4 

25 

10 

7 

Iyonk

1 

1 

0 

0 

1 

1 

1 

0 

0 

1 

3 

3 

9 

9 

9 

8 

Memed

1 

0 

0 

1 

1 

0 

1 

1 

1 

1 

4 

3 

16 

9 

12 

9 

Helmi

1 

1 

0 

1 

0 

0 

1 

1 

1 

1 

3 

4 

9 

16 

12 

10 

Vivid

1 

1 

1 

1 

0 

1 

0 

1 

0 

1 

2 

5 

4 

25 

10 

Jumlah 

32 

40 

110 

166 

115 

 

 

rxy= N∑XY − (∑X) (∑Y)

√ {N∑X² − (∑X)²} {N∑Y² − (∑Y)²}

 

= 10 . 115 − (32) (40)

√{10 . 110 − (32)²} {10 . 166 − (40)²}

 

= 1150 − 1280

√{1100 − 1024} {1660 − 1600}

 

= - 130

√(76) . (60)

 

 

= - 130

√ 4560

 

 

= - 130

67, 52

 

= – 1, 92

 

 

 

 

r 11 = 2 r ½ . ½ .

     (1+ r ½ . ½ )

 

= 2 x (- 1,92)

(1 + 1, 92)

 

= - 3,84

2,92

 

= – 1,3

 



{Juni 18, 2009}  

No. 

Pokok Bahasan 

No. Soal 

Kategori Kognitif

 

C1 C2 C3 C4 C5 C6

Jml 

1 

2 

3 

4 

5 

1.

Kehidupan masa prasejarah di Indonesia 

01

02

03

04

05

06

07

08

09

10 

– V – – – -

– V – – – -

– – – V – -

– – – V – -

V – – – – -

V – – – – -

– – – V – -

– – – – – V

– – – – V -

– – V – – –  

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1 

     

2 2 1 3 1 1

10 

 

 

 



 

Evaluasi Pembelajaran

1.Buatlah satu instrument penilaian pembelajaran berdasarkan kisi-kisi yang dibangun bersandar kurikulun dengan sepuluh soal!

2.Lakukan uji validitas dan reliabilitas
***Postingan di blog masing-masing paling lambat … Kamis, 18 Juni 2009 dan hard copy diserahkan paling lambat diserahkan, Sabtu, 20 Juni 2009.

Standar Kompetensi     : Memahami lingkungan kehidupan manusia purba

Kompetensi Dasar     : mendeskripsikan kehidupan masa prasejarah di Indonesia

Indikator         : menjelaskan pengertian prasejarah

menjelaskan kurun waktu masa prasejarah

         mengidentifikasi perkembangan kehidupan masyarakat prasejarah

         mengidentifikasi peralatan kehidupan prasejarah di Indonesia

         mengindentifikasi peninggalan-peninggalan kebudayaan pada masa

prasejarah

Kelas/ Semester    : X/ I

 

  1. Meganthropus Paleojavanicus artinya …
    1. Manusia kera dari Jawa
    2. Manusia besar tertua dari Jawa
    3. Manusia pertama dari Jawa
    4. Manusia primitif dari Jawa
    5. Manusia besar dari Jawa

 

  1. Temuan manusia purba di Indonesia banyak diketemukan di daerah …
    1. Jawa
    2. Sumatera
    3. Nusa Tenggara
    4. Kalimantan
    5. Sumatera Selatan

 

  1. Dengan adanya hutan yang lebat dan luas akan mempermudah manusia purba untuk …
    1. Beternak
    2. Berladang
    3. Nomaden
    4. Mencari kayu
    5. Berburu dan meramu

 

  1. Jenis-jenis manusia purba di bawah ini yang berarti manusia cerdas adalah …
    1. Pithecanthropus Erectus
    2. Meganthropus
    3. Australopithecus Africanus
    4. Homo Sapiens
    5. Pithecanthropus Robustus

 

  1. Cro Magnon adalah manusia purba yang diketemukan di …
    1. Prancis Selatan (Eropa)
    2. Peking (China)
    3. Goa Broken Hill (Afrika)
    4. Bostwana (Afrika)
    5. Kenya (Afrika Timur)

 

  1. Yang mengadakan penyelidikan manusia purba di China adalah …
    1. Oppenorth dan Dubois
    2. Davidson Black
    3. Terr Harr dan Dubois
    4. Von Koenigswald dan Weidenrich
    5. Raymond Dart

 

  1. Fosil-fosil manusia purba tertua di Indonesia berdasarkan penyelidikan para ahli ditemukan di daerah …
    1. Tulungagung
    2. Ngawi
    3. Ngandong
    4. Sangiran
    5. Mojokerto

 

  1. Belajar sejarah sangat besar manfaatnya sebab …
    1. Untuk mengetahui gambaran kehidupan manusia
    2. Untuk menjadi pedoman hidup
    3. Mengenal tokoh-tokoh yang penting
    4. Dapat mengetahui kehidupan pada masa lampau
    5. Mengenal peristiwa yang terjadi

 

  1. Jika peristiwa masa lalu diurutkan dalam waktu disebut …
    1. Periodisasi
    2. Kronologi
    3. Sosiologi
    4. Epigrafi
    5. Geograf

 

  1. Sejarah berguna memberi pengalaman kepada seseorang, hal ini merupakan kegunaan sebagai …
    1. Edukatif
    2. Rekreatif
    3. Seni
    4. Inspirasi
    5. Ilham

     

     

     

    Kunci Jawaban :

    1. B
    2. A
    3. D
    4. A
    5. B
    6. E
    7. D
    8. D
    9. B

A



{Desember 7, 2008}   Baantar Jujuran

Baantar jujuran adalah sebutan untuk acara lamaran resmi dalam adat banjar.  Dalam acara baantar jujuran tersebut keluarga pihak laki-laki datang ke tempat pihak wanita (biasanya yang datang ke acara baantar jujuran hanyalah kaum wanita, sehingga calon laki-lakinya tidak datang tetapi diwakilkan oleh keluarganya saja) membawakan barang-barang lamaran untuk cgalon mempelai wanita. Barang-barang tersebut berupa alat-alat kecantikan atau perawatan tubuh dari ujung rambut  sampai ujung kaki, seperangkat pakaian, alat shalat, cincin dan uang mahar.  Acara baantar jujuran biasanya diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh pihak wanita. Ketika keluarga/ perwakilan pihak laki-laki datang disambut dengan shalawat nabi dan pada saat penyerahan barang lamaran disertai dengan berbalas atau baturai pantun . Barang-barang yang dibawa tersebut diharapkan / ditujukan untuk bekal sang wanita dalam menjalani rumah tangganya nanti.

Uang mahar atau yang biasa disebut orang banjar sebagai duit jujuran yang telah diserahkan kepada puhak wanita dimasukkan kedalam bakul yang berisi bunga rampai, baras kuning,  gula merah, kelapa muda/ nyiur anum, kemudian diaduk-aduk dengan sendok nasi atau wancuh dan yang nemgaduk biasanya adalah orang yang di tuakan dari pihak wanita, setelah itu uang mahar tersebut diambil kemudian diganti dengan uang recehan yang sering disebut dengan uang papikat, kemudian uang dalam bakul tersebu diperebutkan oleh para undangan yang datang, karena dipercaya apabila mendapat uang tersebut juga akan mendapatkan berkah misalnya uang tersebut dicampur dengan uang usaha kita, maka usaha kita akan menjadi lancar.

Dengan berlangsungnya acara baantar jujuran, maka acara pelamaran sudah resmi dilakukan dan tinggal menunggu hari pernikahan.  Namun, ada juga sebagian masyarakat yang melangsungkan acara baantar jujuran berbarengan dengan acara pernikahan yang biasanya diawali dengan acara baantar jujuran terlebih dahulu baru kemudian disambung dengan acara pernikahan.



{Juni 26, 2008}   MAHASISWA MENULIS
  1. By Melisa Prawita Sari on Jun 26, 2008 | Reply

    Mahasiswa menulis, sudah sepantasnya kami sebagai mahasiswa berkewajiban untuk menulis, menulis hal-hal yang bermanfaat. Setelah mengikuti mata kuliah antropologi ini saya baru sadar bahwa untuk menulis kita tidak perlu belajar karena kita sudah dibekali otak oleh Allah SWT. Dengan adanya otak kita bisa langsung menulis apapun yang kita pikirkan dan kita ketahui yang sudah tersimpan dari kita kecil sampai sekarang di dalam otak. Orang-orang yang tidak mau menulis hanyalah orang-orang yang selalu beralasan bahwa menulis itu sulit, karena mereka tidak berupaya menggunakan otak mereka untuk menulis. Dengan mengikuti MK Antropologi ini saya bersyukur dan berterimakasih telah diberi motivasi untuk belajar menulis.



{Juni 8, 2008}   Menulis Manusia Purbakala
  1. By Melisa Prawita Sari on Jun 8, 2008 | Reply

    Apabila mendengar kata manusia purbakala, maka kita dapat membayangkan bagaimana kehidupan manusia tersebut yang hidup di zaman purbakala dimana kehidupan mereka sangatlah bergantung pada alam, beda sekali dengan zaman yang sekarang kita rasakan kita hidup dengan teknologi yang serba canggih dan modern, semua hal dapat kita peroleh dengan instan. Kita sebagai manusia yang hidup di zaman modern ini harusnya bisa lebih pandai memanfaatkan semua kecanggihan teknologi untuk hal-hal yang bermanfaat. Namun, kebanyakan dari kita banyak melupakan hal tersebut karena terlena dengan semua keindahan teknologi sekarang dan tidak jarang dengan adanya kecanggihan teknologi tersebut digunakan untuk hal-hal yang negatif.
    Salah satu hal yang dapat kita lakukan sebagai manusia yang ‘modern’ adalah dengan menulis. Menulis hal-hal yang bermanfaat. Kita semua sebenarnya memang mampu menulis apalagi semua fasilitas di zaman sekarang dapat mempercepat dan mempermudah kita melakukan segala hal untuk menulis. Oleh karena itu memang tidak sepantasnya kita berkeluh kesah dalam menulis karena dengan tulisan kita dapat membuktikan bahwa kita benar-benar manusia modern yang hidup di zaman modern.



{Juni 8, 2008}   Menulis Manusia Prasejarah
  1. By Melisa Prawita Sari on Jun 8, 2008 | Reply

    Zaman sejarah selalu disebut-sebut sebagai zaman yang sudah ada bukti tertulis itu berarti zaman sebelum sejarah atau prasejarah merupakan zaman yang tidak mengenal tulisan. Kita memang sudah berada di zaman sejarah bahkan sudah disebut sebagai zaman yang modern dimana seluruh fasilitas hidup tersedia. Oleh karena itu sudah sepantasnyalah kita memperbanyak menulis agar kita benar-benar menjadi manusia yang modern dan bukan manusia prasejarah yang hidup dizaman modern karena kita tidak pernah menulis.
    Menulis bukan hanya bermanfaat untuk diri kita sendiri tetapi juga bermanfaat untuk orang banyak dan untuk masa depan karena bisa jadi apa yang telah kita tulis sekarang dapat menjadi bukti tertulis untuk masa depan.



{Juni 6, 2008}   Tantangan Buat Mahasiswa
  1. By Melisa Prawita Sari on May 17, 2008 | Reply

    KONDISI PADA SAAT UJIAN AKHIR (FINAL TEST) DI FKIP UNLAM

    Ujian akhir semester (UAS/ Final test) merupakan agenda yang wajib dilaksanakn oleh setiap institusi pendidikan, tak terkecuali FKIP Unlam. Ujian akhir semester tersebut bisa menjadi agenda yang ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa karena ujian tersebut merupakan akhir dari perkuliahan dan para mahasiswa dapat berlibur panjang setelahnya tetapi ada juga yang menyesalkan mengapa harus ada ujian di tiap akhir semester?

    Disini akan sedikit digambarkan bagaimana keadaan pada saat final test di FKIP Unlam berlangsung. Pelaksanaan ujian akhir semester tersebut dapat dikatakan kurang teratur dan terencana. Why ??? mari telusuri tulisan ini dan kita akan temukan jawabannya.

    Tidak usah ‘lah jauh-jauh studi banding ke luar daerah atau bahkan ke luar negri, cukup studi banding ke kampus tetangga kita yaitu Fakultas Ekonomi(Fekon) yang berada diseberang kampus FKIP. Hampir setiap hari saya ke Fekon karena banyak teman-teman satu SMA saya kuliah di sana dan hampir setiap hari pula saya merasa sedikit iri dengan fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh Fekon, bagaimana tidak? bayangkan saja di setap ruang kuliah/ kelas di Fekon memiliki AC, pengeras suara, komputer, OHP, kursi yang baru, dan tersedia makanan kecil/ kue serta segelas minuman untuk dosen yang sedang mengajar. Kalau di FKIP memang ada fasilitas seperti itu tetapi yang ada hanyalah kipas angin yang sekarang kondisinya banyak yang tidak layak pakai, OHP dan pengeras suara yang tidak tersedia di seluruh ruangan kelas karena jumlahnya yang terbatas. Fekon juga memiliki ruang multimedia dengan jumlah komputer yang banyak sehingga para mahasiswanya tidak perlu antri/ berebutan untuk menggunakan internet gratis. Cukup sampai di situ, ini sekedar intermezo yang membuat saya sedikit iri terhadap fasilitas yang ada di kampus tersebut. Namun hal ini tidak membuat saya berkeinginan untuk kuliah di sana, hanya dapat berharap kapan kampus saya (FKIP) akan memiliki fasilitas seperti itu dan saya tidak akan membahas masalah ini karena saya akan membahas bagaimana keadaan pada saat ujian akhir semester berlangsung di FKIP.

    Satu saat ketika menjelang final test saya kembali bermain-main ke Fekon, di sana saya lihat teman-teman saya begitu sibuk mempersiapkan segala macam keperluan untuk melaksanakan final test. Untuk dapat mengikuti final test setiap mahasiswa diwajibkan membayar iuran IKOMA (Ikatan Orang Tua Mahasiswa) uang tersebut digunakan untuk membayar soal dan kursi untuk ujian dan setelah membayar iuran tersebut setiap mahasiswa akan mendapatkan nomor ujian/ kartu tanda peserta ujian, kartu tersebut dilengkapi dengan pas foto mereka masing-masing dan setiap kursi disusun sedemikian rupa serta ditempeli foto mahasiswa yang akan melaksanakan ujian. Ketika ujian akhir berlangsung para mahasiswa Fekon terlihat tenang, kenapa? karena mereka duduk diatur saling berjauhan dan dosen yang mengawasi ujian tersebut turut membawa beberapa ‘algojo’ (asisten) mereka untuk ikut mengawasi berlangsungnya ujian. Alhasil, para mahasiswa tidak memiliki kesempatan untuk saling menyontek, kalaupun ada tentu bukanlah hal yang mudah untuk menyontek dalam keadaan seperti itu. Ketika ujian akhir telah selesai dan sampai pada waktu pengumuman hasil ujian, seluruh hasil ujian mahasiswa ditempel diseluruh mading yang ada di Fekon, itu berarti Fekon memiliki mading yang banyak untuk menempel nilai-nilai ujian tersebut.

    kemudian…

    Cobalah kita tengok apa yang terjadi di FKIP ketika ujian akhir/ final test akan berlangsung? di FKIP sebelum ujian akhir mahasiswa hanya mendapatkan jadwal ujian yang dapat diperoleh melalui warung fotocopy yang ada di dalam kampus FKIP. Di jadwal tersebut terdapat nama dosen, mata kuliah serta waktu dan tempat/ ruangan untuk ujian. Mahasiswa FKIP hanya mendapatkan jadwal ujian tersebut tanpa mendapatkan nomor ujian/ kartu tanda peserta ujian, kenapa? entahlah…

    Ketika ujian akhir berlangsung pun mahasiswa boleh-boleh saja duduk di kursi manapun yang mereka mau karena tempat duduk mereka tidak diatur dan para mahasiswa siap dengan berbagai macam strategi untuk mengelabui dosen yang mengawasi ujian agar mereka dapat menyontek atau bahkan membuka buku dan contekan/ tulisan kecil yang sudah mereka siapkan, para mahasiswa pun ‘mendempet-dempetkan’ kursi dengan teman-temannya agar proses contek-menyontek lebih mudah.

    Dalam satu ruangan/kelas ujian akhir biasanya hanya diawasi oleh satu orang dosen dengan mahasiswa yang biasanya mencapai 30-60an orang dalam satu kelas, dapat dibayangkan kan? Apalagi ketika ujian akhir tersebut merupakan ujian mata kuliah umum, mahasiswa dari beberapa program studi (biasanya 4 prodi) digabungkan dalam satu ruangan/ kelas (biasanya dilaksanakan di aula/ ruangan yang agak ’sedikit’ besar) dan ujian mata kuliah umum tersebut pun hanya di awasi oleh satu orang dosen, lebih gawat lagi kan?

    Pada saat pengumuman hasil ujian pun, nilai ujian tersebut hanya ditaruh dalam satu map untuk setiap prodi, sehingga para mahasiswa biasanya harus antri bahkan berebut untuk melihat nilai ujian mereka. Bahkan bisa juga map nilai tersebut hilang, entah siapa yang telah menghilangkannya. Kenapa ini terjadi? Apakah mungkin karena mading-mading di FKIP tidak cukup untuk memajang nilai-nilai ujian para mahasiswanya?

    Sebenarnya dengan sistem ujian akhir di FKIP yang telah saya paparkan tersebut, para mahasiswanya tidak memiliki keluhan yang berarti, mungkin ada juga mahasiswa yang setuju dengan sistem tersebut karena itu artinya dosen-dosen di FKIP percaya penuh kepada para mahasiswanya dalam melaksanakan ujian dan dosen-dosen FKIP pun mungkin sangat percaya pada diri mereka sendiri bahwa mereka sanggup mengawasi ujian para mahasiswanya itu seorang diri. Dengan adanya sistem ujian akhir seperti yang ada di FKIP, semoga para mahasiswa FKIP dapat menggunakan azas kejujuran dan jangan menyalahgunakan kepercayaan yang telah sepenuhnya diberikan oleh para dosen pada saat ujian akhir tersebut berlangsung. Semoga…

    Para mahasiswa FKIP sebenarnya tidak ingin melakukan kecurangan dalam melaksanakan setiap ujian karena mereka merupakan orang-orang intelektual/ calon guru, tidak sepantasnya ‘kan calon guru melakukan kecurangan-kecuarangan tersebut? apa nanti kata dunia ?

    Namun, menyontek/ kecurangan-kecurangan lainnya yang terjadi pada saat berlangsungnya ujian akhir bukan hanya karena niat tapi juga karena ada kesempatan.
    Waspadalah… Waspadalah !!!



{Juni 6, 2008}   Mahasiswa Menulis Buku
  1. By Melisa Prawita Sari on May 9, 2008 | Reply

    BAB VII
    ETNOGRAFI BANJAR

    7. 1 KONDISI OBJEKTIF

    1. Lokasi
    Secara geografis Propinsi Kalimantan Selatan terletak pada garis 140° 19’13″ sampai dengan 116°33’14″ BT dan 1°21’49″ sampai dengan 4°10’14″LS. Propinsi Kalimantan Selatan mempunyai wilayah seluas 37.530, 52 km2 atau sekitar 6,98% dari luas Pulau Kalimantan. Secara administratif Propinsi Kalimantan Selatan Ibukotanya adalah Banjarmasin. terletak di bagian tenggara Pulau Kalimantan, batasnya :

    • Sebelah Utara : berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Timur
    • Sebelah Selatan : berbatasan dengan Laut Jawa
    • Sebelah Timur : berbatasan dengan Selat Makassar
    • Sebelah Barat : berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Tengah

    Penduduk Kalimantan Selatan biasanya menyebut wilayah Banjarmasin dengan sebutan ‘Banjar’, pada mulanya Banjar adalah sebutan untuk kampung yang dihuni oleh orang-orang Melayu. Orang-orang Ngaju menyebut orang-orang Melayu yang tinggal di kawasan sepanjang sungai dengan sebutan ‘Banjar Masih’, yang artinya kampung-kampung orang Melayu, dan berdasarkan geografi politik tradisional, Banjar juga adalah sebuah nama kerajaan Islam yang pada awalnya terletak di Banjarmasin. Ketika proses pembentukan Kerajaan Banjar, Banjar Masih mempunyai pelabuhan dagang yang disebut orang Ngaju ‘Bandar Masih’ artinya Bandarnya orang Melayu dan dijadikan sebagai ibukota kerajaan Banjar yang kemudian menjadi kota Banjarmasin.

    2. Keadaan Alam Kalimantan Selatan

    Sebagian besar Pulau Kalimantan terbangun dari sedimen laut yang berasal dari Laut Jawa dan laut Cina Selatan. Bagian Barat Daya pulau ini terdiri dari singkapan batu berumur 400 juta tahun, pada masa lalu merupakan bagian dari Dataran Sunda yang dulu pernah menyatu dengan Semenanjung Melayu, jawa, dan Sumatera.

    Dari segi topografi di wilayah Kalimantan Selatan terbentang Pegunungan Meratus, terbentang dari Utara ke selatan dan membagi wilayah menjadi Wilayah Barat dan Wilayah Timur. Wilayah Propinsi Kalimantan Selatan mempunyai kemiringan tanah 0-2 % dan sebagian besar berada pada kelas ketinggian 25-100 m di atas permukaan laut.Wilayah Pegunungan Meratus merupakan daerah yang terpisah secara khusus dari daerah perbukitan yang lain dan merupakn lahan yang kaya akan tumbuh-tumbuhan spesifik, terutama anggrek. Jenis fauna tidak hanya tergantung oleh tipe habitat, tetapi juga batasan-batasan geografis pegunungan dan sungai-sungai. Flora resmi di Kalimantan Selatan adalah Kasturi (Mangifera casturi) dan fauna resminya adalah Bekantan (Nasalis larvatus).

    Secara geologis, sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan terdiri dari batu endapan dan batuan beku, dengan bentuk morfologi yang dapat dibagi menjadi 4 bentuk, yaitu :
    • Dataran alluvial : 589.243 ha
    • Dataran : 1.171.944 ha
    • Pegunungan : 1.259.456 ha
    Dengan demikian wilayah Kalimantan Selatan didominasi oleh bentuk morfologi daratan dan pegunungan,masing-masing 33,89% dan 33,56%.

    Daerah Kalimantan Selatan banyak dialiri sungai besar maupun sungai kecil. Sungai terbesar adalah sungai Barito anak sungainya Sungai Bahan dan Sungai Negara. Dekat Banjarmasin, Sungai Barito mempunyai cabang Sungai Martapura dan anak-anak Sungai Riam kanan dan Riam Kiwa. Daerah aliran sungai lainnya yang terdapat di Propinsi Kalimantan Selatan adalah : Tabanio, Kintap, Satui, Kusan, Batulicin, Pulau Laut, Pulau Sebuku, Cantung, Sampanahan, Manunggal dan Cengal. Dan memiliki catchment area sebanyak 10 (sepuluh) lokasi yaitu Binuang, Tapin, Telaga Langsat, Mangkuang, Haruyan Dayak, Intangan, Kahakan, Jaro,dan Batulicin.

    3. Penduduk

    Penduduk yang mendiami Propinsi Kalimantan Selatan biasanya disebut ‘Urang Banjar’ (Orang Banjar), walaupun penduduk di Kalimantan Selatan bukan seluruhnya etnik/ suku Banjar asli.

    Ketika Banjarmasin lahir di tahun 1526 yang merupakan lahirnya kerajaan Banjar, penduduknya adalah campuran dari unsur Melayu, Ngaju, Maanyan, Bukit, Jawa dan suku-suku kecil lainnya yang dipersatukan oleh agama Islam, berbahasa dan beradat istiadat Banjar. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya dengan inti pembentukan persatuan etnik lahir kelompok besar yaitu kelompok Banjar Kuala, kelompok Banjar Batang Banyu, dan Kelompok Banjar Pahuluan.

    Delapan etnik/ suku terbanyak di Kalimantan Selatan berdasarkan sensus 2000 (dalam sensus belum disebutkan beberapa suku terkecil yang merupakan penduduk asli) :
    1. Suku Banjar : 2.271.586 jiwa
    2. Suku Jawa : 391.030 jiwa
    3. Suku Bugis : 73.037 jiwa
    4. Suku Madura : 36.334 jiwa
    5. Suku Buket : 35.838 jiwa
    6. Suku Mandar : 29.322 jiwa
    7. Suku Bakumpai : 20.609 jiwa
    8. Suku Sunda : 18.519 jiwa
    9. Lainnya : 99.165 jiwa
    Total penduduk Propinsi Kalimantan Selatan tahun 2000 : 2.975.440 jiwa

    Berdasarkan hasil Survei Ekonomi Nasional 2002 diperkirakan jumlah penduduk Kalimantan Selatan bertambah dengan total 3.054.129 jiwa, terdiri dari laki-laki 1.528.939 dan perempuan 1.525.190. Jumlah penduduk tersebut termasuk jumlah penduduk asli dan penduduk pendatang.

    Penduduk asli Kalimantan Selatan terdiri dari berbagai kelompok etnik/ suku, antara lain:
    a. Orang Banjar Kuala; Banjarmasin sampai Martapura
    b. Orang Banjar Batang Banyu; Margasari sampai Kelua
    c. Orang Banjar Pahuluan; Pleihari, Rantau, Kandangan, Barabai, Amuntai, sampai Tanjung
    d. Suku Barangas di Berangas, Ujung Panti, Lupak, Aluh-Aluh
    e. Suku Dayak Dusun Deyah di Muara Uya, Gunung Riut, Upau
    f. Suku Dayak Balangan; daerah Halong dan sekitarnya di Kabupaten Balangan
    g. Suku Maanyan; Dayak Warukin, Pasar Panas, Dayak Samihin
    h. Suku Lawangan di Muara Uya Utara
    i. Suku Abal di Kampung Agung sampai Haruai
    j. Suku Bukit di Awayan (Dayak Pitap), Haruyan, Hantakan, Loksado, Piani, Paramasan, Bajuin, Riam Adungan, Sampahan, Hampang
    k. Suku Bakumpai di Bakumpai, Marabahan, Kuripan, Tabukan

    Selain penduduk asli, terdapat pula penduduk pendatang dari berbagai kelompok etnik/ suku dari luar Kalimantan Selatan, antara lain :
    a. Suku Bugis di Pagatan (Bugis Pagatan) dan sekitarnya di Kabupaten Tanah Bumbu dan Kotabaru
    b. Suku Madura di Madurejo (Madura Madurejo) dan sekitarnya di Kecamatan Pengaron daerah Riam Kiwa Kabupaten Banjar dan Mangkauk
    c. Suku Bajau di Kotabaru, Tanjung Batu
    d. Suku Mandar di Pulau Laut dan Pulau Sebuku
    e.Suku Jawa Tamban di Purwasari Tamban Kabupaten barito Kuala
    f.Orang Cina Parit di Pleihari Kabupaten Tanah Laut
    g.Suku Bali di Barambai Kabupaten Barito Kuala, Sebamban di Kabupaten Kotabaru, dan sedikit di sekitar daerah Pleihari

    Selain itu terdapat pula etnis keturunan Arab yang menempati perkampungan-perkampungan Arab di daerah-daerah tertentu di Kalimantan Selatan.

    Diantara penduduk pendatang tersebut, Suku Bugis-lah yang datang secara legal atau resmi dengan membentuk kerajaan dan membawa budaya asli mereka di Kalimantan Selatan atas izin resmi dari raja Banjar yang berkuasa pada saat itu. Sedangkan penduduk pendatang lainnya datang ke Kalimantan Selatan melalui transmigrasi dan ada juga yang datang secara spontan.

    Kelompok Etnik berdasarkan urutan keberadaannya di Kalimantan Selatan :
    1. Austro-Melanosoid (sudah punah)
    2. Dayak (rumpun Ot Danum)
    3. Suku dayak Bukit
    4. Suku Banjar (1526)
    5. Suku Bajau, Suku Bugis (1750), Suku Mandar
    6. Suku Jawa, Suku Madura
    7. Etnis Tionghoa-Indonesia, Etnis Arab-Indonesia
    8. Etnis Eropa (1860-1924, sudah punah)

    Dengan demikian, dengan adanya pendatang dari luar Kalimantan Selatan terjadi pembauran budaya luar dengan budaya daerah ini di samping pembauran budaya antar etnis yang merupakan penduduk asli Kalimantan Selatan.



{Juni 6, 2008}   Unsur-unsur Kebudayaan
  1. By Melisa Prawita Sari on Apr 16, 2008 | Reply

    Suatu kebudayaan itu memiliki 7 unsur kebudayaan dan setiap kebudayaan pada setiap daerah itu berbeda, perbedaan itu terletak pada wujudnya yang berupa sistem budaya, yang berupa sistem sosial dan yang berupa unsur – unsur kebudayaan fisik. misalnya saja dalam sistem mata pencaharian pada masyarakat pedesaan yaitu bertani atau bercocok tanam berbeda dengan sistem mata pencaharian penduduk yang tinggal di kota. Mereka lebih banyak berkutat pada dunia bisnis,produksi, dan hiburan.
    itu adalah salah satu contoh sederhana perbedaan unsur kebudayaan antara masyarakat pedesaan dengan masyarakat perkotaan dalam sistem mata pencaharian.



dan lain-lain
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.